Oleh : SADIKIN ARISKO
Langis Berperah Dewe Mu Ton
Hari ini kita bukan berbicara tari Saman, didong dan tari guel di atas panggung.
Kita berdiri karena saman yang sebenarnya sedang dimainkan di hutan kita ber didong di antara lukanya pohon pinus, dan kita sedang memainkan tari guel di antara tahah Gayo yang sudah di klaim milik entah siapa.
Dahulu nenek moyang kita menyebut tanah ini Tanah Gayo yang kaya
Kaya bukan karena tekhnologi, bukan karena gedung.
Kaya karenauyem, kupi, bako tiga simbol yang menjaga kehidupan kita.
Uyem _damar/pinus, berdiri tegak seperti Pang lima yang menjaga adat.
Daunnya berbisik dengan angin: desar desur
Itulah Desur ni uyem. Suara alam yang bercerita tentang keagungan, tentang kokohnya akar, tentang rindangnya kasih sayang antara manusia dan hutan.
Kupi _kopi Gayo, menjadi nama kita sampai ke ujung dunia.
Bako_ tembakau, menjadi napas kehidupan tanah Gayo di masa lampau
Tiga itu adalah _simbul hidup_. Bukan hiasan dinding, bukan kata-kata di spanduk HUT.
Tetapi sekarang
Di mana uyem yang dulu setinggi doa?
Yang tersisa hanya batang kurus,
Yang terdengar bukan lagi desir daun, tapi tak-tak-tak kapak, yang melukai pohon
Mereka bilang, “Itu bukan hutan kalian lagi. Itu sudah ada aturan. Ada pemilik.”
Sejak kapan Tanah Gayo bukan milik orang Gayo?
Sejak kapan kita menjadi tamu di rumah sendiri?
Sementara banyak yang berkata: “Suku Gayo itu seperti pinus. Akarnya dalam, batangnya lurus, puncaknya menyapa langit.”
Jika pinusnya ditebang, apa lagi yang tersisa
Jika hutan habis, kepada siapa kita bersumpah menjaga alam?
Pertanyaannya
Kemana perginya pohon besar itu?
Siapa yang memetiknya dan membawa pergi?
Mengapa aturan di sana lebih tajam dari pedang berkuci
Dan apakah “uyem” kini hanya tinggal kata, tinggal syair, tinggal kenangan?
Wahai pemegang kebijakan, wahai pemegang pena dan stempel,
Sampai kapan kalian menjajah dan menindas kami
Kami tidak melawan kemajuan.
Kami melawan lupa.
Kami melawan pengkhianatan terhadap tanah yang telah menyusui kita.
Kita harus sadar
Jika hutan mati, adat mati.
Jika adat mati, Gayo juga hilang.
Dan jika Gayo hilang, jika Gayo hilang bagaimana nanti??!
Kembalikan Desur ni uyem!
Kembalikan suara hutan kami!
Kembalikan Gayo kepada orang Gayo!
Gayo harga mati!
(Sk)
